PERBANDINGAN NILAI VISUAL ANALOG SCALE (VAS) ANTARA PEMBERIAN ASAM MEFENAMAT PERORAL PRE DAN POST SIRKUMSISI

Agussalim Ali, La Ode Muhammad Widodo

Abstract


ABSTRAK
Sirkumsisi akan menimbulkan nyeri karena perlukaan pada kulit penis yang diakibatkan oleh proses
inflamasi. Nyeri post sirkumsisi bisa dikurangi dengan pemberian analgetik, salah satunya dengan asam
mefenamat peroral. Pemberian analgetik umumnya dilakukan setelah sirkumsisi. Pemberian analgetik
sebelum dilakukan perlukaan untuk mengurangi nyeri pasca tindakan disebut Preemtive Analgesia.
Intensitas nyeri pada anak diukur dengan VAS (Visual Analog Scale). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui Perbandingan Nilai Visual Analog Scale (VAS) Antara Pemberian Asam Mefenamat Peroral
Pre dan Post Sirkumsisi. Penelitian ini termasuk quasi-experimental dengan model posttest design only
yang dilakukan di Desa Pulowaru Kecamatan Basulutu, Kabupaten Konawe. Jumlah sampel pada
penelitian ini adalah 36 sampel, yang terdiri dari 18 sampel yang diberikan asam mefenamat peroral 1
jam sebelum sirkumsisi dan 18 sampel yang diberikan asam mefenamat peroral segera setelah sirkumsisi.
Penilaian VAS dilakukan 1 jam, 2 jam dan 3 jam setelah sirkumsisi (T1, T2 dan T3). Nilai VAS T1 dengan
pemberian analgetik asam mefenamat peroral pre sirkumsisi lebih rendah dibanding nilai VAS T1 dengan
pemberian analgetik asam mefenamat peroral post sirkumsisi, nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000. Nilai VAS
T2 dengan pemberian analgetik asam mefenamat peroral pre sirkumsisi lebih rendah dibanding nilai VAS
T2 dengan pemberian analgetik asam mefenamat peroral post sirkumsisi, nilai Sig. (2-tailed) sebesar
0,005. Nilai VAS T3 pasien dengan pemberian analgetik asam mefenamat pre sirkumsisi lebih tinggi
dibanding nilai VAS T3 dengan pemberian analgetik asam mefenamat peroral post sirkumsisi, nilai Sig.
(2-tailed) sebesar 0,000.Nilai VAS kelompok yang diberikan asam mefenamat pre sirkumsisi lebih rendah
dibandingkan dengan nilai VAS kelompok yang diberikan asam mefenamat post sirkumsisi pada T1 dan
T2, namun sebaliknya pada T3.


Full Text:

PDF

References


Ali, A. 2019. Analisis NilaiVisual AnalogScale(VAS) terhadap Penggunaan Analgetik pada Pasien pasca

Seksio Sesarea di RSUD Kota Kendari. Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo 6(2) : 558-569

Anggara, C. 2016. Perbandingan efektifitas pemberian parasetamol pre sirkumsisi dengan pemberian

ibuprofen post sirkumsisi terhadap rasa nyeri setelah sirkumsisi. Karya Tulis Ilmiah. Program Studi

Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta. Yogyakarta.

Arifin, M., dkk. 2013. Hubungan Persepsi tentang Sirkumsisi dengan Tingkat Kecemasan Pada Anak Usia

Sekolah (6-12 Tahun) yang Akan Dilakukan Sirkumsisi di Desa Gambangan Kecamatan Maesan

Kabupaten Bondowoso. Fikes Universitas Muhammadiyah Jember. Jember

Brunton, LL., dkk. 2006. Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics Eleventh

Edition. Medical Publishing Devision. New York.

Febriana, dkk. 2015. Uji Efek Pemberian Asam Mefenamat Sebelum Pencabutan Gigi Terhadap Durasi

Ambang Nyeri Setelah Pencabutan Gigi. Jurnal e-GiGi 3 (2): 561-566

Fitria. 2014. Peran Sirkumsisi Dalam Infeksi Menular Seksual. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala 14(1): 4349.

Gayatri, A. 2008. Pengaruh Analgesia Akupunktur Frekuensi Kombinasi terhadap Onset Nyeri Pasien

Pasca Operasi Lengan Bawah Tertutup. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah

Surakarta. Surakarta.

Karita, D., Ramdhoni, MF. 2018. Hubungan Usia dan Berat Badan Dengan Ukuran Lingkar Penis Anak

MenggunakanO-Meter: Sirkumsisi Metode Klem. Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto

Katz, Joel dkk. 2011. Analgesia Preventiva. Quo Vadimus?.International Anesthesia Research Society. 113

(5): 1242-1253

Katzung, G Betram. 2014. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 12 Vol 2. EGC. Jakarta

Lavand’homme, P. 2011. From Preemptive to Prevent ive Analgesia Time to Reconsider the Role of

Perioperative Peripheral Nerve Blocks? Regional Anesthesia and Pain Medicine (36) 1: 4-6

Ma’ruf, Ali. 2011. Efek Ketorolak 30 mg Intravena sebagai Pre-emptive Analgesia pada Operasi. Skripsi.

Malone, P., Steinbrecher, H. 2007. Medical aspects of male circumcision. Clinical Review. Department of

Paediatric Urology Southampton University Hospital. Southampton.

Mardana, IKRP., Aryasa, TEM. 2017. Penilaian Nyeri. SMF/Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar

Muhsin, A. 2017. Hubungan Tingkat Usia Dengan Disiplin Belajar Mahasiswa Madrasah Diniyah Semester

VIII di Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum. Akademika 11 (1):10-20

Pramono, A., dkk. 2018. Preemptive analgesic with paracetamol and tramadol analgesics in pediatric

circumcision. JKKI 9 (7): 35-38

Price, A Sylvia., Willson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis dan Proses-Proses Penyakit.

Vol 2.EGC. Jakarta

Pritaningrum, Fanny. 2010. Perbedaan Skor Visual Analogue Scale antara Ketorolak dan Deksketoprofen

pada Pasien Pasca Bedah. Skripsi. Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro.

Semarang

Saputra, IBA., dkk. 2013. Profil Penggunaan Analgetika Pada Pasien Nyeri Akut Pasca Bedah di RSUP

Sanglah Bulan September Tahun 2013. Artikel. Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas

Kedokteran Universitas Udayana. Bali.

Satiyah, U., dkk. 2015. Pengaruh Pemberian Pre Emptive Ketamin 0,15 mg/kgbb iv Terhadap Intensitas

Nyeri Pasca Operasi Bedah Onkologi Mayor Dengan Anestesi Umum Di RSUD Dr Saiful Anwar

Malang. Jurnal Anestesiologi Indonesia 7(3): 197-209.

Seno, DH., dkk. 2012. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keluaran dan Komplikasi Sirkumsisi. J

Indon Med Assoc (61)1: 22-27


Refbacks

  • There are currently no refbacks.