PEDOMAN MENGADAPTASI RUMAH TRADISIONAL BUTON PADA BANGUNAN KANTOR PEMERINTAH DI KOTA BAUBAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Muhammad Zakaria Umar(1), Arief Saleh Sjamsu(2),


(1) Program Studi D3 Arsitektur, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Halu Oleo
(2) Program Studi D3 Arsitektur, Program Pendidikan Vokasi, Universitas Halu Oleo
Corresponding Author

Abstract


ABSTRAK
Selama ini kegiatan adaptasi-mengadaptasi rumah tradisional Buton ke bangunan pemerintah masih bersifat
asal caplok dan cenderung kurang mempertimbangkan filosofi serta makna dari rumah tradisional Buton. Hal ini
terjadi karena belum adanya pedoman atau acuan yang pasti tentang cara mengadaptasi rumah tradisional Buton.
Pedoman mengadaptasi rumah tradisional Buton ke bangunan pemerintah penting dibuat agar filosofi, simbol,
dan makna rumah tradisional Buton tetap terjaga. Penelitian ini ditujukan untuk membuat pedoman adaptasi
rumah tradisional Buton pada bangunan kantor pemerintah di Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara.
Penelitian ini menggunakan metode etnografis dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan
dengan cara dokumentasi seperti pengambilan gambar obyek, buku, dan data-data hasil penelitian sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pedoman mengadaptasi rumah tradisional Buton pada
bangunan kantor pemerintah di Kota Baubau dilakukan dengan cara menyetarakan tugas para pejabat,
menyetarakan fungsi para pejabat, menyetarakan bangunan tradisional dan kantor pemerintahan, dan
mengidentifikasi elemen-elemen arsitektural yang bermakna politis.
Kata kunci: Adaptasi, rumah Buton, bangunan pemerintah
ABSTRACT
All this time the adaptation activities - adapting traditional Buton houses to government buildings are still of
an origin and tend to lack consideration of the philosophy and meaning of traditional Buton houses. This
happens because there are no definitive guidelines on how to adapt the traditional Buton house. Guidelines for
adapting traditional Buton houses to government buildings are important so that the philosophy, symbols, and
meanings of traditional Buton homes are maintained. This study aimed to make guidelines for adaptation of
traditional Buton houses in government office buildings in the City of Baubau, Southeast Sulawesi Province.
This research uses ethnographic methods with a qualitative approach. Data collection is done by means of
documentation such as taking pictures of objects, books, and data from previous research. Based on the above it
can be concluded that the guidelines for adapting traditional Buton houses to government office buildings in the
City of Baubau are carried out by balancing the duties of officials, balancing the functions of officials, balancing
traditional buildings and government offices, and identifying architectural elements that are politically
meaningful.
Keywords: Adaptation, Buton house, government building


References


Abubakar, L., A. (1999). Memahami Nilai-nilai Budaya Masyarakat Buton. Majalah Budaya Buton Wolio

Molagi, September-Oktober: 16.

Addin, A., dkk. (2011). Undang-undang Murtabat Tujuh dan Sifat Dua Puluh (Israrul Umrai Fiy Adatil

Wuzrai). Kota Baubau: Yayasan Fajar Al Buthuuni.

Budihardjo, E., ed., (1996). Arsitektur dan Kota Di Indonesia. Cetakan keempat. Bandung: P.T. Alumni.

. (2009). Arsitektur Indonesia dari Perspektif Budaya. Bandung: Penerbit P.T. Alumni.

Brock, J., P. (2000). The Evolution of Adaptive Systems. San Diego-California: Academid Press.

Doughlas, J. (2006). Building Adaptation Butterworth-Heinemann is an imprint of Elsevier. 2nd edition. UK:

Linacre House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP. 30 Corporate Drive, Suite 400, Burlington, MA 01803, USA.

Lang, J. (1987). Creating Architectural Theory, The Role Of The Behavioral Sciences In Environmental Design.

New York: Van Nostrand Reinhold Company Linacre House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP. 30 Corporate

Drive, Suite 400, Burlington, MA 01803, USA.

Laurens, J., M. ( 2004). Arsitektur dan Perilaku Manusia. Jakarta: PT. Grasindo.

Hidayatun, M., H. (1999). Pendopo Dalam Era Modernisasi Bentuk, Fungsi dan Makna Pendopo pada Arsitektur

Tradisional Jawa dalam Perubahan Kebudayaan. Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, Vol. 27, No. 1, hal. 37-

Hutcheon, L. (2006). A Theory of Adaptation. New York: Routledge Taylor & Francis Group 270 Madison

Avenue. New York, NY 10016.

Kadir, I. (2000). Perubahan dan Kesinambungan pada perkembangan Rumah Tradisional Buton di Kawasan

Benteng Keraton Buton Sulawesi Tenggara. Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana Arsitektur-UGM.

Mentayani, I & Nurtyanti, I.W. (2015). Transformasi Adaptif Permukiman Tepi Sungai Di Kota Banjarmasin

Kasus: Barito-Muara Kuin, Martapura, dan Alalak. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Mudjriddin, M., M., A. (2010). Undang-Undang Martabat Tujuh Sumber Filosofis Pancasila Sebagai Landasan

Sistem Demokrasi Ketuhanan Di Dalam Pembenahan Sistem Pemerintahan Dunia. Kota Baubau: Lembaga

Pengkajian Budaya Buton Bekerjasama Dengan Institut Tasawwuf Al Mujaddid Yayasan Jabbal Qurais.

Priyanahadi, Y., B., ed. (1999). Y. B. Mangunwijaya Pejuang Kemanusiaan. Yogyakarta: Kanisius.

Ramadhan, S. (2003). Simbol Status Sultan dan Aparat Kesultanan Dalam Rumah Bangsawan di Buton Sulawesi

Tenggara, Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana Arsitektur-UGM.

Roaf, S. (2009). Adapting Building And Cities For Climate Change 2ndedition. UK: Architectural Press. Linacre

House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP, UK. 30 Corporate Drive, Suite 400, Burlington, MA 01803, USA

Rosyidah, S., Umar, M., Z., & Yusriyanto. (2018). Bangunan yang Mengadaptasi Jatidiri Rumah Tradisional

Tolaki Studi Kasus Bangunan Islamic Centre di Kolaka Timur Sulawesi Tenggara. Prosiding Seminar

Archimariture IPLBI. Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 3, hal. A001-A008.

Said. (1998). Perjumpaan Islam dan Budaya Buton Spiritualitas, Moralitas, dan Etos Kerja. Majalah Budaya

Buton Wolio Molagi, 14 : Juli-Agustus.

Sugiyono. (2014). Skripsi Tesis dan Disertasi. Bandung: Alfabeta.

Sumalyo, Y. (2001). Mata Kuliah Sejarah Arsitektur 1. Makassar: Tanpa Penerbit.

Tarafu, L., A., M. (2003). Tasawuf Akhlaqi Sara Pataanguna Memanusiakan Manusia Menjadi Manusia

Khalifatullah Di Bumi Kesultanan Butuni. Buton: Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Buton.

Turi, L., A. (2007). Esensi Kepemimpinan Bhinci Bhinciki Kuli (Suatu Tinjauan Budaya Kepemimpinan Lokal

Nusantara). Kota Baubau: Penerbit Khazanah Nusantara.

Umar, M., Z. (2017). Filosofi Sarapataanguna Pra dan Pasca Islam Sebagai Filosofi Rumah Tradisional Buton

Kaum Walaka. EMARA-Indonesian Journal of Architecture, Vol. 3, No. 2, hal. 61-67.

Umar, M., Z. (2016). Koeksistensi Konsep Makna Simbolik Rumah Tradisional Buton (Rumah Kaum Walaka)

dan Bangunan Kantor DPRD Di Kota Baubau. Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal

dan Rancangan Lingkungan Terbangun-Bali, 3 November, Bali: Universitas Udayana.

. (2016). Koeksistensi Konsep Makna Simbolik Rumah Tradisional Buton (Rumah Kaum

Maradika) dengan Kantor BKDD di Kota Baubau. Jurnal Ilmiah Mustek Anim Ha, Vol. 5 No. 1, hal. 1-13.

. 2015. Jiwa Puitis Nenek Moyang Orang Buton Pada Rumah Tradisional Buton Malige Di Kota

Baubau Sulawesi Tenggara. Jurnal Etnoreflika, Vol. 04, No. 03, hal. 910-921.

Umar, M., Z., Yudono, A., & Heryanto, B. 2012. Koeksistensi Konsep Makna Simbolik Rumah Tradisional

Buton dan Bangunan Modern di Kota Baubau. J. Sains & Teknologi, Vol. 1, No.1, hal. 1-12.

Widyarta, M., N. (2007). Mencari Arsitektur Sebuah Bangsa Sebuah Kisah Indonesia. Surabaya: Wastu Lanas

Grafika.


Full Text: PDF

Article Metrics

Abstract View : 14 times
PDF Download : 39 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.