KONSEP EKSISTENSI RUANG BUDAYA PERMUKIMAN PESISIR SULAA DI KOTA BAUBAU

Ishak Kadir(1), M. Arzal Tahir(2),


(1) Universitas Halu Oleo
(2) Universitas Halu Oleo
Corresponding Author

Abstract


ABSTRAK
Masyarakat pesisir Sulaa umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional dan merupakan mata pencaharian utama sejak perkampungan Topa dihuni untuk pertama kalinya. Sulaa juga dikenal sebagai kampung tenunan kain tradisional khas Buton sebagai kegiatan ekonomi yang berbasis budaya. Kehidupan budaya dan spiritual begitu kental dalam kehidupan masyarakatnya, terutama kegiatan yang berhubungan dengan tradisi masyarakat Buton. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan eksistensi ruang budaya dan spiritual masyarakat dalam permukiman pesisir Sulaa sebagai bagian dari entitas dan realitas ruang sosial budaya masyarakatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dan analisis induktif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep eksistensi ruang budaya dan spiritual di Permukiman Pesisir Sulaa terbangun berdasarkan [i] pemahaman masyarakat bahwa ruang mempunyai nilai keberkahan yang dapat memberikan ketentraman hati, rezeki, kekuatan serta perlindungan bagi kehidupan mereka, [ii] fungsi penting ruang untuk aktivitas spiritual yang memberi kemanfaatan bagi keberlangsungan hidup masyarakat, yaitu keberkahan rezeki yang melimpah, keselamatan dan perlindungan bagi permukiman mereka. Kesadaran budaya dan spiritual menjadi referensi tata ruang dan tata kesadaran masyarakat yang memiliki pola fungsional dan transendental.
Kata kunci: eksistensi ruang, budaya, Sulaa

References


DAFTAR PUSTAKA

Darmawan, Y.M. (2008), Menyibak Kabut di Keraton Buton, Baubau: Past, Present, and Future), Respect Pemkot Baubau, Baubau.

Kadir, I., (2015), Posaasaangu sebagai Nilai Transendental Penciptaan dan Penggunaan Ruang di Permukiman Sulaa Baubau, Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta (tidak dipublikasikan).

Haryadi, Setiawan, B. (2010), Arsitektur Lingkungan dan Perilaku, Pengantar ke Teori, Metodologi dan Aplikasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Kusnadi, (2009), Keberdayaan Nelayan dan Dinamika Ekonomi Pesisir, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta.

Mattulada, (1977), Kebudayaan Suku Bangsa, paper, Widya Karya Nasional Antropologi Pembangunan, Jakarta.

Habraken (1998), The Structure of the Ordinary: Form and Control in the Built Environment, Graphic Composition Inc, USA.

Hiller, B., 1989, The Architecture of The Urban Object, dalam Ekistics: The Problems and Science of Human Settlements, Vol. 56, 334/335, January/February-March/April 1989.

Rapoport, A. (1977), Human Aspects of Urban Form, Pergamon Press, USA.

Kadir, I., Djunaedi, A. Sudaryono, Wibisono, B.H., 2014, Eksistensi Ruang Mata Air Topa di Permukiman Sulaa Baubau, Prosiding Seminar Nasional Manusia dan Ruang Dalam Arsitektur dan Perencanaan, SERAP, APRF, Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal.131-137.

Waterson, R., 1990, The Living House, An Anthropology of Architecture in South-East Asia, Singapore: Oxford University Press.

Rossi, A. (1984), The Architecture of The City, Massachusetts, The MIT Press


Full Text: PDF

Article Metrics

Abstract View : 83 times
PDF Download : 85 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.