AKULTURASI BUDAYA JAWA DAN AJARAN ISLAM DALAM TRADISI POPOKAN

Siti Zakiyatul Fikriyah, Indra Dwi Jayanti, Siti Mu’awanah

Abstract


Abstrak: Pengetahuan masyarakat awam mengenai suatu tradisi atau kebudayaan umumnya hanya mengenal sebuah tradisi yang sangat terkenal, pun tanpa mengetahui makna filosofisnya. Bahkan tidak jarang di antara mereka tidak mengetahui jika ada sebuah tradisi di sekitar daerahnya sendiri. Hasil dari wawancara dari beberapa masyarakat sekitar kecamatan Bringin menunjukan masih banyak yang belum mengenal betul mengenai adanya tradisi Popokan. Kalaupun ada yang tahu, mereka akan mengatakan kurang mengenal betul mengenai makna filosofis dari tradisi Popokan. Tujuan artikel ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan bentuk akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam pada tradisi Popokan (saling melempar lumpur) di Dusun Sendang, Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, dan (2) mengetahui bagaimana cara masyarakat Desa Sendang dalam mempertahankan tradisi Popokan tersebut yang hingga saat ini masyarakat Desa Sendang masih terus menjalankannya. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian dalam artikel akulturasi budaya Jawa dan ajaran Islam pada tradisi Popokan adalah teori Kebudayaan dan teori Akulturasi. Penelitian ini bersifat kualitatif. Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dalam artikel ini dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Dalam tradisi Popokan masih menggunakan budaya Jawa yang merupakan warisan nenek moyang, yakni adanya sesajen saat pelaksanaan tradisi Popokan, serta diiringi dengan adanya ajaran Islam di dalam tradisi Popokan, seperti ziarah kubur dan doa-doa kepada Allah SWT. (2) Masyarakat Desa Sendang melestarikan tradisi Popokan dengan cara selalu melaksanakan tradisi ini setiap setahun sekali, dan tidak pernah melewatkannya. Hal ini didasari oleh kepercayaan mereka, bahwa jika tidak melaksanakannya akan terjadi bencana besar di Desa Sendang. Terbukti pada sekitar tahun 1950 pernah terjadi bencana besar yang merugikan warga, sehingga masyarakat Desa Sendang tidak ingin mengulangi untuk yang kedua kalinya.

Kata kunci: Akulturasi; Budaya; Popokan.

Abstract: The knowledge of ordinary people about a tradition or culture generally only recognizes a very famous tradition, even without knowing its philosophical meaning. In fact, not infrequently among them do not know if there is a tradition around their own area. The results of interviews from several communities around the Bringin sub-district showed that there were still many who were not familiar with the Popokan tradition. Even if anyone knows, they will say they don't know much about the philosophical meaning of the Popokan tradition. The purpose of this article is to: (1) describe the forms of acculturation of Javanese culture and Islamic teachings in the Popokan tradition (throwing mud at each other) in Sendang Hamlet, Sendang Village, Bringin District, Semarang Regency, and (2) knowing how the Sendang Village community maintains the Popokan tradition which until now the people of Sendang Village continue to practice it. The theory used to analyze the acculturation research of Javanese culture and Islamic teachings in the Popokan tradition is the Culture theory and Acculturation theory. This research is qualitative. The type of data used are primary data and secondary data. Data collection is done through interviews, observations, and documentation. The data in this article were analyzed descriptively qualitatively. The results of this study indicate that: (1) In the Popokan tradition they still use Javanese culture which is a legacy of their ancestors, namely offering offerings during the Popokan tradition, and accompanied by Islamic teachings in the Popokan tradition, such as grave pilgrimages and prayers to God SWT (2) Sendang Village people preserve the Popokan tradition by always carrying out this tradition once a year, and never miss it. This is based on their belief, that if they don't do it, there will be a big disaster in Sendang Village. It was proven that around 1950 there had been a major disaster that harmed residents, so that the people of Sendang Village did not want to repeat a second time.

Keywords: Acculturation; Culture; Popokan.


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.33772/jpeb.v5i2.11111

Refbacks

  • There are currently no refbacks.