SENI PERTUNJUKAN KUDA LUMPING LESTARI BUDOYO DI DESA WONUA SARI KECAMATAN MOWILA KABUPATEN KONAWE SELATAN

Tavip Sunarto; Irianto Ibrahim; La Ode Sahidin

Abstract


Penelitian ini bertujuan; 1) Untuk menemukan proses penyajian kesenian Kuda lumping Lestari Budoyo di Desa Wonua Sari Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. 2) Untuk menemukan makna simbolik sesajen yang terkandung dalam kesenian Kuda lumping Lestari Budoyo di Desa Wonua Sari Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. 3) Untuk menemukan fungsi kesenian Kuda lumping Lestari Budoyo di Desa Wonua Sari Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif–deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2018/2019 di Desa Wonua Sari Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. Data dalam penelitian ini berupa informasi dari para informan yang diperoleh dari hasil wawancara. Video, foto, dan rekaman Kesenian Kuda lumping Lestari Budoyo merupakan data sekunder dalam penelitian di Desa Wonua Sari Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan. Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Proses pelaksanaan tari Kuda lumping Lestari Budoyo di Desa Wonua Sari, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan meliputi perencanaan acara, membersihkan lapangan untuk pertunjukan, pembuatan sesaji, nyekar ke pepundhen, obong menyan, pertunjukan Kuda lumping Lestari Budoyo diantaranya tari kreasi baru, tari jaipong, tari gobyok, tari mataraman, tari jaranan versi Bali, kesurupan atau ndadi; 2) Makna simbolik yang terkandung dalam sesaji pertunjukan Kuda lumping Lestari Budoyo, meliputi:Degan ijo bermakna berdiri atau berhasil dalam mencari rejeki sehingga bisa gemah ripah loh jinawi), Bonang-baning bermakna memohon keselamatan selama mengadakan pertunjukan dan meminta keselamatan pada leluhur yang merasuki para penari agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama penari mengalami kesurupan; Kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis berarti melambangkan alam ghaib  tapi disaat penari menarikan tarian kuda lumping tidak akan merasakan rasa capek dan terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan; Kembang setaman berarti berarti manusia harus menjaga keharuman namanya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang negative; Air diberi daun dhadhap serep berarti wujud bakti kepada yang lahir lebih sehari, yang pernah tua, dan yang pernah muda, yang berada di kiblatnya masyarakat Desa Wonua Sari. 3) Tarian Kuda lumping Lestari Budoyo memiliki fungsi antara lain: Sebagai sarana upacara; Sebagai sarana hiburan; Sebagai Media Pendidikan; Sebagai seni pertunjukan.

Keyword: Kuda Lumping; Pertunjukan; Seni;


Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.33772/jpsb.v3i2.7811

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Pembelajaran Seni dan Budaya have been indexed on: